F.A.Q

  • Definisi Operasional

Zonasi

Apa itu RDTR-PZ?

Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) adalah dokumen rencana yang terperinci mengenai tata ruang wilayah tingkat kecamatan. RDTR juga dilengkapi dengan Peraturan Zonasi (PZ) yang mengatur pemanfaatan ruang untuk setiap zona peruntukan tata ruang. RDTR-PZ DKI Jakarta secara lengkap dijelaskan dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi.


Link Referensi/Download : http://bappedajakarta.go.id/?page_id=1891

Apa saja klasifikasi zonasi yang berlaku di DKI Jakarta?

Zonasi DKI Jakarta terdiri dari 20 klasifikasi besar sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang dibagi sebagai berikut:

1. Zona Terbuka Biru
2. Zona Lindung
3. Zona Hutan Kota
4. Zona Taman Kota/Lingkungan
5. Zona Pemakaman
6. Zona Jalur Hijau
7. Zona Hijau Rekreasi
8. Zona Pemerintahan Nasional
9. Zona Perwakilan Negara Asing
10. Zona Pemerintahan Daerah
11. Zona Perumahan Kampung
12. Zona Perumahan KDB Sedang - Tinggi
13. Zona Perumahan Vertikal
14. Zona Perumahan KDB Rendah
15. Zona Perumahan Vertikal KDB Rendah
16. Zona Pelayanan Umum dan Sosial
17. Zona Perkantoran, Perdagangan, dan Jasa
18. Zona Perkantoran, Perdagangan, dan Jasa KDB Rendah
19. Zona Campuran
20. Zona Industri dan Pergudangan


Bagaimana cara mengetahui klasifikasi zonasi lahan saya?

Untuk mengetahui Zonasi, Intensitas, dan jenis Pemanfaatan yang diperbolehkan:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Peta sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Bagaimana cara mengetahui jenis pemanfaatan yang diperbolehkan di lahan saya?

Untuk mengetahui Zonasi, Intensitas, dan jenis Pemanfaatan yang diperbolehkan:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel ITBX sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Apa yang dimaksud dengan Type T ?

Tipe Tunggal adalah bangunan yang harus memiliki jarak bebas dengan batas perpetakan atau batas pekarangan pada sisi samping dan belakang.

Untuk mengetahui tipe yang berlaku pada lahan Anda:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel Intensitas sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Apa yang dimaksud dengan Type D ?

Tipe Deret adalah bangunan yang diperbolehkan rapat dengan batas perpetakan atau batas pekarangan pada sisi samping.

Untuk mengetahui tipe yang berlaku pada lahan Anda:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel Intensitas sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Apa yang dimaksud dengan Type K ?

Tipe Kopel adalah bangunan yang diperbolehkan rapat pada salah satu sisi samping dengan batas perpetakan atau bangunan disebelahnya.

Untuk mengetahui tipe yang berlaku pada lahan Anda:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel Intensitas sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Apa yang dimaksud dengan PSL?

PSL adalah Pola Sifat Lingkungan adalah pengelompokan lokasi lingkungan yang sama sedemikian rupa sehingga membentuk suatu pola sesuai dengan rencana kota.

PSL terdiri dari :
1. Tidak Padat (TP)
2. Kurang Padat (KP)
3. Padat (P)
4. Sangat Padat (SP)

Untuk mengetahui PSL yang berlaku pada lahan Anda:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel Intensitas sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Apa yang dimaksud dengan TPZ?

Teknik Pengaturan Zonasi (TPZ) merupakan teknik pemberian fleksibilitas terhadap ketentuan-ketentuan umum Peraturan Zonasi (PZ), sekaligus memberikan insentif pembangunan.

TPZ hanya diberikan terhadap sub-blok atau persil-persil tertentu, dan dilambangkan menggunakan kode huruf yang terletak pada akhir kode sub-blok.

Contoh:
ID SUBBLOK 07.007.K.1.a.b.e.
"a.b.e." merupakan kode-kode TPZ yang diberlakukan di Sub-Blok tersebut


Kode TPZ apa saja yang diterapkan di DKI Jakarta?

Kode a = Bonus
Kode b = Pengalihan Hak Membangun/Transfer of Development Rights (TDR)
Kode c = Pertampalan Aturan/overlay
Kode d = Pemufakatan Bangunan
Kode e = Khusus
Kode f = Pengendalian Pertumbuhan
Kode g = Pelestarian Kawasan Cagar Budaya


Seperti apa ketentuan proporsi kegiatan pada Sub-Zona Campuran (C.1)?

Proporsi jenis kegiatan diatur menggunakan proporsi KLB, sebagai berikut:
(a) Pada lahan yang memiliki PSL Sangat Padat dan Padat: Komersial maksimal 65%; dan Hunian minimal 35%
(b) Pada lahan yang memiliki PSL Kurang Padat dan Tidak Padat: Komersial 50%; dan Hunian 50%
(c) Pada kawasan pengembangan konsep TOD: Komersial maksimal 65%; dan Hunian minimal 35%


Pemanfaatan dan Perizinan

Apa itu Tabel ITBX?

Tabel ITBX adalah sebuah tabel yang secara rinci mengatur kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan di setiap sub-zona di tiap Kecamatan. Tabel ITBX di sebut demikian karena ketentuan kegiatan di bagi menjadi 5 (lima) kategori:

I : Diperbolehkan
T: Diizinkan Terbatas
B : Diizinkan Bersyarat
TB: Diizinkan Terbatas Bersyarat
X: Tidak Diizinkan

Untuk melihat Tabel ITBX:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel ITBX sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Apakah kegiatan pemanfaatan ruang yang telah berlangsung namun tidak sesuai dengan ketentuan dalam Perda No. 1 Tahun 2014 tidak dapat memperpanjang izin operasional setelah tanggal 18 Februari 2017 (Sesuai Instruksi Gubernur No. 158 Tahun 2015) ?

Apakah kegiatan pemanfaatan ruang yang telah berlangsung namun tidak sesuai dengan ketentuan dalam Perda No. 1 Tahun 2014 tidak dapat memperpanjang izin operasional setelah tanggal 18 Februari 2017 (Sesuai Instruksi Gubernur No. 158 Tahun 2015) ?

 

Mengenai kelanjutan kegiatan-kegiatan yang telah berlangsung di atas zonasi yang tidak sesuai telah diatur melalui kedua dokumen di bawah ini:
a) Surat Pengumuman Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi DKI Jakarta No. 241 Tahun 2016 tentang Masa Berlaku Dokumen Perizinan dan Non Perizinan Pada Zonasi yang Tidak Sesuai; dan
b) Surat Pengumuman Dinas Penataan Kota No. 13 Tahun 2016 tentang Masa Inventarisasi Permohonan Revisi/Keberatan/Usulan Perubahan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi.


Bagaimana jika jenis kegiatan yang dilakukan di sebuah tempat tidak termuat dalam Tabel ITBX?

Gubernur akan menetapkan keputusan terhadap jenis kegiatan yang dimaksud setelah mendapatkan pertimbangan dari Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD).


Apa yang dimaksud pemugaran Golongan A ? (Perda No. 9 Tahun 1999 Tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya)

Berdasarkan PERATURAN DAERAH KHUSUS  IBU KOTA JAKARTA NOMOR 9 TAHUN 1999 TAHUN PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN LINGKUNGAN DAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA
Pasal 19
Pemugaran bangunan cagar budaya Golongan A merupakan upaya preservasi bangunan dengan ketentuan sebagai berikut :

a. bangunan dilarang dibongkar dan atau di ubah;
b. apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar taua tidak layak tegak dapat dilakukan   pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya;
c. pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan yang sama/sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan detail ornamen bangunan yang telah ada;
d. dalam upaya revitalisasi dimungkinkan adanya penyesuaian/perubahan fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa merubah bentuk bangunan aslinya.
e.di dlam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi suatu kesatuan yang utuh dengan bangunan uatama.

 

 


Intensitas

Apa perbedaan Peta Zonasi dan Peta Operasional?

Peta Zonasi adalah peta berskala 1:5000, yang memperlihatkan peraturan zonasi di setiap Kecamatan secara umum.

Sedangkan Peta Operasional adalah peta yang lebih rinci, dengan skala 1:1000. Peta ini juga memuat gambar jalan dengan lebar di bawah 12 meter, dan pembagian-pembagian persil tanah terlihat lebih jelas. Maka dari itu, Peta Operasional cocok untuk masalah perizinan dan pemanfaatan ruang.

Untuk melihat Peta Zonasi:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Rencana Zonasi’ → unduh Peta sesuai kecamatan Anda

Untuk melihat Peta Operasional:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Peta sesuai kecamatan Anda


Apa yang dimaksud dengan KLB ?

Koefisien Lantai Bangunan adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan gedung dengan luas efektif lahan perpetakan atau lahan perencanaan yang dikuasai sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah, Rencana Detail Tata Ruang, dan Peraturan Zonasi.

Untuk mengetahui nilai KLB yang berlaku pada lahan Anda:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel Intensitas sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Apa yang dimaksud dengan KTB ?

Koefisien Tapak Basemen adalah angka persentase berdasarkan perbandingan antara luas tapak basemen dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan oleh lingkungan.

Untuk mengetahui nilai KTB yang berlaku pada lahan Anda:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel Intensitas sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Bagaimana cara mengetahui tingkat Intensitas Bangunan yang diperbolehkan di lahan saya?

Untuk mengetahui intensitas bangunan yang diperbolehkan, anda hanya membutuhkan ID Sub-blok properti anda yang dapat dilihat di Peta Operasional.

Untuk mengetahui nilai Intensitas keseluruhan yang berlaku pada lahan Anda:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel Intensitas sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Umum

Apa Yang dimaksud dengan GSB ?

Garis Sepadan Bangunan adalah sempadan yang membatasi jarak terdekat bangunan terhadap tepi jalan; dihitung dari batas terluar saluran air kotor sampai batas terluar muka bangunan, berfungsi sebagai pembatas ruang, atau jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap lahan yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai, antara massa bangunan yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan tinggi listrik, jaringan pipa gas, dsb (building line).


Apa Yang dimaksud dengan ramp ?

Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu (1:5), sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga dan kendaraan untuk menuju parkir di lantai atas atau bawahnya.


Berapa lebar GSB ?

Lebar GSB tergantung lebar rencana jalan
a. Jalan dengan lebar rencana kurang atau sama dengan 12 m (dua belas meter), GSB sebesar setengah kali lebar rencana jalan;
b. Jalan dengan lebar rencana antara 12 m (dua belas meter) sampai atau sama dengan 26 m (dua puluh enam meter), GSB sebesar 8 m (delapan meter);
c. Jalan dengan lebar rencana lebih besar dari 26 m (dua puluh enam meter), GSB sebesar 10 m (sepuluh meter);
d. Jalan yang ada dan tidak merupakan rencana jalan, GSB sebesar 2 m (dua meter);
e. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d tidak berlaku pada Kawasan Cagar Budaya atau kawasan tertentu tanpa GSB dengan menyediakan pedestrian yang ditetapkan oleh Gubernur.


Apakah masih bisa ada perubahan Zonasi ?

Sesuai dengan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Penjelasan Pasal 20 yang dijelaskan kembali dalam Perda No. 1 Tahun 2014 RDTR dan PZ, tidak ada lagi perubahan zonasi sampai dilakukannya revisi lima tahunan (tentunya perubahan zonasi terjadi dengan kajian mendalam).


Kapan Rencana jalan akan di realisasikan ?

Dilihat dari aspek kebutuhan warga, ketersedianya anggaran, dan kebijakan kepala daerah.


Apakah rencana jalan dapat berubah ?

Rencana jalan < 12 m dan tidak terdapat dalam peta zonasi dapat dilakukan penataan ulang.


Apakah pada Zona Hijau dapat dibangun bangunan baik hunian atau lainnya ?

Zonasi hijau tidak dapat didirikan bangunan berdasarkan Perda No. 1 Tahun 2014.


Apabila Bangunan kami di atas jalur hijau atau rencana jalan akankah ada penggantian dari pihak pemerintah ?

Jika dibebaskan akan dilakukan penggantian oleh pemerintah.


Apakah tipe bangunan dapat diubah menjadi tunggal dan sebagainya ?

Dikarenakan sudah menjadi peraturan intensitas pada Perda No. 1 Tahun 2014 maka peraturan intensitas tersebut di sesuaikan dengan peraturan yang ada di Perda tersebut.


Bolehkah saya membuka usaha di rumah?

Anda dapat mengeceknya melalui Tabel ITBX.

Tabel ITBX adalah sebuah tabel yang secara rinci mengatur kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan di setiap sub-zona di tiap Kecamatan. Tabel ITBX di sebut demikian karena ketentuan kegiatan di bagi menjadi 5 (lima) kategori:

I : Diperbolehkan
T: Diizinkan Terbatas
B : Diizinkan Bersyarat
TB: Diizinkan Terbatas Bersyarat
X: Tidak Diizinkan

Untuk melihat Tabel ITBX:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan’ → ‘Operasional’ → unduh Tabel ITBX sesuai kecamatan Anda

Panduan untuk membaca Peta Operasional beserta tabel dapat diunduh di:
http://dcktrp.jakarta.go.id/beranda/semua-download.html → Cara membaca Peta Operasional JSC


Apakah ada jenis izin pemanfaatan khusus untuk rumah kost?

Sesuai dengan ketentuan dalam Tabel ITBX, kegiatan rumah kost:

a. Diperbolehkan (Kode I) pada sub-zona R6-R11.
b. Diizinkan bersyarat (Kode B) pada sub-zona R1-R5, K1-K5, dan C1; dengan syarat sekurang-kurangnya memiliki izin hangguan dan menyediakan tempat parkir kendaraan di dalam persil.

Untuk mengurus Izin Rumah Kost (IRK), dapat dilakukan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Persyaratan, mekanisme pelayanan, dan beberapa informasi dapat dilihat melalui:
http://pelayanan.jakarta.go.id/site/detailperizinan/170


Apa yang di maksud dengan prasarana penunjang?

Prasarana penunjang adalah fasilitas-fasilitas tertentu yang diperbolehkan di zona/sub-zona meskipun peruntukkan utamanya tidak secara eksplisit mencakup kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagai contoh, prasarana penunjang yang diperbolehkan adalah sebagai berikut:

a. Untuk Kawasan Pemerintahan: asrama, rumah dinas, tempat ibadah, kantin/food court.
b. Untuk Kawasan Perkantoran: tempat ibadah, kantin/food court.
c. Untuk Kawasan Rumah Susun/Apartemen: tempat ibadah, kantin/food court, mini market.

Pemanfaatan ruang untuk prasarana penunjang maksimal 20% dari luas seluruh lantai bangunan.


Jika pertanyaan Anda belum ada pada halaman FAQ, silahkan kirimkan pertanyaan anda melalui email : uptd_cktrp@jakarta.go.id